![]() |
Lansia pun Cinta Sejarah (sumber:pribadi) |
JasMerah (Jangan sekali – kali melupakan Sejarah) ~Soekarno
Pernyataan Presiden RI pertama tersebut benar adanya. Jika anda ingin belajar sejarah, khususnya sejarah kabupaten Sumedang dari awal hingga sekarang. Maka, ada tempat special untuk anda penikmat sejarah. Dimana lagi, kalau bukan di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang. Di tempat ini anda akan diajak untuk bernostalgia ke Abad 18.
Museum Prabu Geusan Ulun beralamat di jalan Prabu Geusan Ulun No.40 Sumedang Jawa Barat. Untuk mencapai tempat ini tidaklah sulit, sebab tempat ini tepat di pusat kota sebelah selatan alun – alun berdekatan dengan Gedung Negara, kediaman Bupati Sumedang. Untuk dari arah Bandung, anda bisa menggunakan angkot 04 berhenti depan alun – alun Sumedang. Sedangkan dari arah Cirebon, anda bisa naik kendaraan 03 dari bundaran dano.
Harga tiket masuk ke Museum Prabu Geusan Ulun, cukup terjangkau kantong. Dengan mengeluarkan Rp 2000 untuk kalangan TK,SD, SMP Lalu Rp 3000 untuk kalangan SMA,Mahasiswa dan Umum serta Rp 10.000 untuk wisatawan asing. Tempat ini sangat pas untuk dijadikan planning liburan anda. Apalagi, ditambah suasana tempatnya yang nyaman, asri dan koleksi – koleksinya yang unik dan menarik. Membuat anda akan merasa betah berlama – lama disana.
Museum Prabu Geusan Ulun resmi dibuka pada tahun 1974, di masa Bupati Sumedang, Drs. Supian Iskandar. Nama tempat ini, diambil dari nama raja Sumedang larang terakhir yakni Prabu Geusan Ulun (1578 – 1601). Museum ini terdiri dari beberapa gedung. Menurut Iis Nuraeni (67 tahun), Rabu,06 Juni 2012,” Museum ini terdiri dari 6 bangunan. Pertama, gedung Srimanganti dibangun tahun 1706. Kedua, Bumi Kaler dibangun tahun 1850. Ketiga, Gendeng dibangun tahun 1850. Keempat, Pusaka Baru tahun 1990. Kelima, Gamelan dibangun tahun 1973. Dan yang keenam, Gedung Kereta Kencana, tahun 1996.”
Di gedung Srimanganti anda akan merasakan hebatnya arsitektur bangunan tua di abad ke 18. Di dalam gedung ini tersimpan meja pemberiaan ayahanda R.A Kartini dengan ukiran – ukiran khas Jepara di meja tersebut. Lalu, disimpan pula baju – baju kebesaran bupati Sumedang tempo dulu. Kemudian, anda akan melihat tempat tidur Pangeran Kornel yang begitu dominan dengan warna kuning dan hijau.
Sementara, di gedung Bumi Kaler anda akan melihat tiga macan lodaya asal Bengkulu. Disamping itu terdapat lukisan Pangeran Kornel ketika sedang bersalaman dengan Mas Galak atau Dandles saat sedang membuat jalan pos Anyer – Panarukan di Sumedang. Nama tempat bersalaman itu kini dikenal dengan nama Cadas Pangeran. Koleksi naskah – naskah kuno dan Al Qur’an tulis tangan tahun 1836, sayang untuk di lewatkan di tempat ini.
Di Gedung Gendeng, anda akan diajak untuk melihat koleksi wayang golek peninggalan pangeran Sugih. Dan tempat ini merupakan berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda- benda pusaka. Gedung yang dibangun tahun 1850 ini, di dominasi oleh warna putih untuk dinding bangunannya dan hijau untuk pintu dan jendelannya. Berjalan sejenak, di samping gedung Gendeng. Terdapat gedung Pusaka. Di gedung ini tersimpan Mahkota Binokasih dari Emas asli. Mahkota tersebut kini tersimpan di lemari kaca yang anti peluru. Sedangkan mahkota yang digunakan sekarang di upacara – upacara pernikahan, merupakan mahkota duplikat.
Mahkota Binokasih merupakan koleksi paling menarik yang ada di museum Prabu Geusan Ulun. Anda tahu kenapa ? Sebab mahkota Binokasih merupakan mahkota pemberiaan dari Prabu Siliwangi kepada Kerajaan Sumedang larang waktu itu. Selain itu, di gedung Pusaka pula terdapat keris Nagasastra, milik Pangeran Kornel di abad 18. Dan menurut Iis Nuraeni (67tahun), “pada bulan Mulud, benda – benda pusaka ini di mandikan dan diarak pada kecuali Mahkota Binokasih yang asli.”
Lalu, anda akan memasuki kawasan gedung Gamelan dan gedung Kereta. Di gedung Gamelan anda akan melihat koleksi – koleksi macam – macam gamelan. Diantaranya, Sari Oneng Parakansalak, dan Sari Oneng Mataram di abad 17 peninggalan Pangeran Penembahan. Selain itu, terdapat foto Ali Sadikin dan Istri. Ali Sadikin merupakan tokoh Sumedang yang pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta. Sementara di gedung Kereta, Anda akan melihat kereta Naga Paksi merupakan peninggalan Pangeran Soegih. Kereta ini dipergunakan untuk upacara kebesaran. Kereta Naga Paksi yang asli tersimpan baik di museum. Sementara, untuk menggantinya dibuatlah duplikat kereta Naga Paksi.
Setelah puas, memutari bangunan seluas 1, 5 Hektar dan melihat koleksi – koleksi museum Prabu Geusan Ulun. Anda akan dihadapi pada perasaan, kagum dan luar biasa dahsyatnya sejarah Sumedang. Selain itu, anda pun bisa beristirahat sejenak karena di samping museum ada warung yang siap menampung aspirasi perut anda.
Jangan lupa, Museum Prabu Geusan buka dari Hari selasa sampai minggu (Kecuali hari jum’at, senin serta hari besar nasional libur). Tempat ini dibuka dari pukul 08.00 – 14.00 WIB. Khusus hari minggu, di museum selalu ada kegiatan gamelan degung dan tari. Saat disinggung mengenai berapa jumlah pengunjung yang datang ke museum. Menurut Reni (49 tahun), “pengunjung yang datang kesini, banyaknya pas MOS dan kenaikannya sampai limaratus lebih. Sementara untuk hari biasa biasanya seratus tiket habis dalam lima hari.” Pernyataan Reni diamani pula oleh Iis Nuraeni yang sudah dari tahun 1978 mengabdi di museum ini.
Sudah menyiapkan rencana liburan anda. Saya rekomendasikan pada anda. museum Prabu Geusan Ulun adalah tempat yang tepat untuk mengisi liburan anda dengan positif. Dengan harga yang begitu murah anda akan mendapatkan pengalaman jauh daripada uang yang anda keluarkan. So, persiapkan diri kalian dan rasakan sensasi perjalanan menyusuri saksi sejarah Sumedang, Museum Prabu Geusan Ulun.*
*Nandar Sunandar, Jurnalistik Semester IV/B Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
0 comments:
Post a Comment